FOREX Market News

Market Review : Emas Potensi Koreksi, Karena Rebound Dolar Hari Ini

Market Review : Emas Potensi Koreksi, Karena Rebound Dolar Hari Ini

cyberfx.id – Harga emas dibuka flat pada sesi perdagangan awal pekan ini (30/3) bertahan diatas level $1,610 ditengah antisipasi pasar terhadap kekhawatatiran atas perkembangan wabah Korona yang semakin besar dan aksi Test Rudal oleh Korea Utara baru-baru ini.

Awal pekan ini Investor nampak berhati-hati dan terus memantau perkembangan seputar Virus Korona.

Panik Selling dapat kembali terjadi melihat Amerika negara dengan ekonomi terbesar ini masuk dalam angka tertinggi COVID19 melewati China pada Sabtu.

Hal ini dapat kembali memicu kuatnya safe-haven pada Dolar AS karena kebutuhan Cash dipasar dunia karena penyebaran Coronavirus yang sangat cepat telah mendorong Dolar terus diuntungkan.

Ekonomi AS juga terancam memburuk dengan tingkat pengangguran yang diperkirakan akan meningkat tajam hingga 30% (terburuk yang pernah terjadi) menurut member Fed James Bullard.

Pada sesi perdagangan Jum’at lalu (27/3), Harga emas spot ditutup turun sebanyak $8.70 atau 0.54% berakhir pada level $1,621.95 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan hingga setinggi $1,636.10 dan serendah $1,614.30.

Emas berjangka kontrak April ditutup naik tipis sebesar $26.20 atau 1.6% berakhir pada level $1,625.00 per troy ounce di Divisi Comex.

Secara Teknikal harga emas diperkirakan akan diperdagangkan pada kisaran $1,634.00 – $1,596.70.

EUR/USD Berpotensi Melanjutkan Kenaikannya

EUR/USD Berpotensi Melanjutkan Kenaikannya

Mata uang Eropa dan mata uang terkait komoditas terlihat melonjak ke posisi tertinggi mingguan karena kelemahan dollar. Tidak ada alasan nyata bahwa langkah arah selanjutnya akan terus bergantung pada kekuatan atau kelemahan greenback tersebut.

Pergerakan mata uang tunggal untuk kawasan Eropa terhadap dollar AS terus menunjukkan performa yang signifikan di tengah krisis virus corona yang memburuk.

Dollar AS berada di bawah tekanan pekan lalu karena aset berisiko rebound. Namun, analis dari Goldman Sachs memperkirakan greenback bisa segera naik karena rally bersejarah belum berakhir.

Selama bulan Maret ini, pasangan mata uang EUR/USD telah mencapai level tertingginya dan terendah dalam setahun terakhir di tengah volatilitas yang tinggi di pasar mata uang.

Sebagian keuntungan yang diraih euro datang dari para investor yang menjual Dollar AS seiring tindakan stimulus AS yang meningkatkan likuiditas global, sekaligus melunakkan permintaan safe haven yang dominan.

Euro masih memiliki potensi kenaikan jika kebijakan fiskal Euro zone dinilai mampu meredam sentimen terkait penyebaran virus corona.

GBP/USD Mempertahankan Di Jalur Kenaikan Mingguannya

GBP/USD Mempertahankan Di Jalur Kenaikan Mingguannya

Mata uang sterling Inggris terlihat meraih keuntungan di sesi perdagangan Jumat lalu dan hingga berita ini dibuat masih berada di jalur kenaikan sekaligus menghentikan penurunan beruntun dalam dua pekan sebelumnya.

Kenaikan bahkan tetap terjadi di tengah berita bahwa PM Boris Johnson dan Pangeran Charles menjadi pemimpin dunia kedua dan pertama yang positif terinfeksi virus corona.

“GBP/USD sangat menghasilkan rebound yang sangat kuat yang harus dipertahankan di atas pivot 1.23 untuk mengharapkan pemulihan lebih lanjut dalam waktu yang sangat dekat,” menurut pendapat ekonom dari Rabobank.

Sterling terlihat menguat di tengah kelemahan greenback yang ditekan oleh janji Federal Reserve untuk meningkatkan program pembelian obligasi dan menggulirkan langkah-langkah dukungan lebih lanjut untuk memudahkan akses ke dollar dan mengurangi masalah pendanaan.

China cuts interest rate, injects $7 billion into banking system

China cuts interest rate, injects $7 billion into banking system

The People’s Bank of China (PBOC) on Monday cut the seven-day reverse repo rate to 2.2% from 2.4% and injected 50 billion yuan or $7 billion into the banking system.

The central bank infused liquidity into the financial system via open-market operations for the first time since Feb. 17, ending the longest hiatus since December 2018, according to Bloomberg.

So far, the rate cut and the liquidity injection have failed to bring relief to the risk assets. The S&P 500 futures are reporting a more than 1% loss at press time.

Reli Dolar AS belum berakhir – Goldman Sachs

Reli Dolar AS belum berakhir – Goldman Sachs

Dolar AS berada di bawah tekanan pekan lalu karena adanya rebound pada aset berisiko. Menurut Analis Goldman Sachs ‘Greenback’ bisa segera naik karena reli bersejarah belum berakhir.

Indeks dolar turun dari 103 menjadi 98,27 minggu lalu, karena S&P 500, indeks saham Wall Street, naik lebih dari 10 persen, karena merespon adanya kebijakan fiskal dan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diluncurkan oleh AS dan pemerintah lain di seluruh dunia.

“Runtuhnya” ekonomi dari wabah baru saja dimulai dan penarikan pasar ekuitas lebih lanjut terlihat tak terhindarkan, menurut Zach Pandl, ahli strategi di Goldman Sachs.

USD/JPY Masih Diuntungkan Oleh Tekanan Yang Melanda Greenback

USD/JPY Masih Diuntungkan Oleh Tekanan Yang Melanda Greenback

Yen Jepang menguat di sesi Asia hari ini, meskipun ada tawaran beli dalam dollar AS, diperdagangkan 0.46% lebih tinggi vs greenback dengan USD/JPY meluncur dari tertinggi 107.769 ke level terendah sesi 107.300 sejauh ini.

Pemerintah Jepang diberitakan akan mempertimbangkan untuk memperluas larangan masuk bagi mereka yang dari AS, China, Korea Selatan, dan sebagian besar Eropa, seperti yang dilaporkan Reuters. Di sisi lain, BOJ mengutip penyangga modal dan persyaratan likuiditas sebagai penanggulangan Operasi Pasar Terbuka (OMO) bank sentral.

Seiring indeks dollar yang menuju jalur kerugian terbesarnya sejak 2009, seiring melonggarnya permintaan pedanaan dalam bentuk dollar yang diakibatkan oleh ketentuan sejumlah bank sentral utama. Hal inilah yang memberikan dukungan bagi penguatan yen Jepang, yang mendapat dorongan dari minat pasar yang masih tinggi terhadap aset safe haven.

Pasar tergantung pada aliran stimulus dari pemerintah dunia dan bank sentral dan sebelum akhir pekan, Federal Reserve AS mengatakan akan mengurangi program pembelian obligasi negara dari $75 miliar/hari saat ini menjadi $60 miliar/hari pada 2 April. Federal Reserve juga akan mengurangi pembelian sekuritas hipotek sebesar $10 miliar menjadi $40 miliar dan tetap bersifat fleksibel.

Emas Masih Mencatat Kinerja Mingguan Terbaiknya

Emas Masih Mencatat Kinerja Mingguan Terbaiknya

Pergerakan harga emas terlihat bergerak fluktuasi dalam range sempit pada perdagangan Jumat lalu, namun masih mencatat kinerja mingguan terbaiknya dalam hampir 12 tahun.

Hal ini disebabkan oleh para investor yang menutup posisi transaksi mereka di pasar emas menyusul dukungan dari respon pasar terhadap kebijakan fiskal AS dalam jumlah besar.

Pasar global terus mengalami kesulitan karena pesimisme virus corona (COVID-19) dengan emas bergerak pada kisaran $1620/25 saat ini telah naik 0.10% mendekati $1630 di sesi Asia hari Senin.

Sementara berita utama akhir pekan menunjukkan bahwa Presiden AS Donald Trump dalam Briefing Task Force Corona Virus terbarunya menghapus karantina dari area berbahaya, memperpanjang kembali penerapan social distancing sampai 30 April yang dapat membebani nada risiko. Tercatat jumlah kasus COVID-19 di AS telah melampaui 124,000.

Emas juga agak tertekan oleh rebound dollar untuk pertama kalinya di minggu lalu, setelah disetujuinya paket stimulus Covid-19 senilai $ 2 triliun olehHouse of Representatives.

Selama pekan ini komoditas logam mulia mencatat kenaikan hingga 9.5% dan nampaknya dukungan masih terlihat mengingat masih tingginya sentimen risk-off pasar di tengah pandemi virus corona.

Berita geopolitik yang mengkhawatirkan selama akhir pekan kemarin adalah Arab Saudi melaporkan rudal balistik telah dicegat pada Sabtu kemarin di langit di atas ibu kota Arab Saudi, Riyadh dan kota selatan Jazan. Juga, diberitakan Korea Utara meluncurkan rudal balistik jarak pendek ke laut lepas pantai timurnya pada hari Minggu.

 

 

Safe Haven Masih Muncul, Emas Berkutat Dekat Tertinggi 1½ Minggu

(MentariMulia) – Emas berada di level tertinggi selama 1 minggu pada hari Kamis di Asia, daya tarik safe-haven tampaknya tetap ada di tengah kehati-hatian investor dalam pemulihan ekuitas dan harga minyak bisa berlalu dengan cepat.

Bullion telah mendapatkan manfaat dari sentimen pengalihan risiko yang telah menyeret ekuitas dan minyak ke posisi terendah selama multi tahun dan mendorong investor untuk melirik aset yang dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman.

Saham Asia dan harga minyak mentah kembali melemah pada hari Kamis tapi sentimen masih rapuh.

Spot emas sedikit berubah pada harga $1,102.05 per ons pukul 12.39WIB. Menyentuh di harga $1,109.20 pada hari Rabu, yang merupakan tertinggi sejak 8 Januari.

Spot emas berada pada kisaran harga $ 1,100 dibawah level resistance yang pertama pada harga $ 1,111.00, ini bisa terjadi dikarenakan investor yang melirik emas sebagai asset safe haven ditengah kecemasan dalam pemulihan ekuitas dan juga harga minyak yang sewaktu-waktu dapat berlalu dengan cepat. Jika emas berhasil melewati level resistance yang pertama maka emas memiliki kemungkinan untuk terus bergerak mendekati level resistance yang kedua pada harga $ 1,121.30.

Saat ini emas berada diatas level support yang pertama pada harga $ 1,088.90, jika emas melemah dan berhasil melewati level support yang pertama maka emas memiliki kemungkinan untuk terus bergerak mendekati level support yang kedua pada harga $ 1,077.10.

Tapi harapan dari kenaikan suku bunga AS pada Maret berkurang setelah harga konsumen secara tak terduga turun pada bulan Desember, menawarkan tanda-tanda inflasi yang lemah.

BMI Research, bagian dari lembaga Fitch, juga mengharapkan emas jatuh di bawah $1.000 seiring tambahan kenaikan suku bunga AS dan ekonomi AS yang cukup kuat.

Emas Gerak Naik Seiring Penurunan Saham Asia, Minyak Mundur Lebih Jauh

(MentariMulia) – Emas bergerak menuju level yang lebih tinggi pada Rabu siang, seiring penurunan kembali terjadi dalam ekuitas dan minyak yang membuat safe-haven bullion terdongkrak, meskipun permintaan fisik terus menurun dari Asia di bawah level puncak bulan ini.

Kontrak bulan terdepan minyak mentah berjangka AS turun ke level terendah selama intra-hari $27,92 per barel pada hari sebelumnya, yang terendah sejak September 2003, menggarisbawahi kekhawatiran tentang ekonomi global. Saham Asia juga tergelincir.

International Monetary Fund memangkas proyeksi pertumbuhan global untuk ketiga kalinya dalam waktu kurang dari setahun setelah perekonomian China tumbuh pada tingkat yang paling lambat dalam seperempat abad pada 2015.

Spot emas naik sebesar 0,4% pada $1,091.85 per ons pukul 13.13WIB.

Spot emas berada pada kisaran harga $1,093 berada didekat level resistance yang pertama pada harga $1,093.83 apabila emas berhasil menembus level resistance yang pertama maka emas memiliki kemungkinan untuk terus bergerak mendekati level resistance yang kedua pada harga $ 1,099.97. Dengan menurunnya ekuitas, memberikan dukungan terhadap emas jika emas bisa memanfaatkan momentum tersebut maka emas dapat terus menguat.

Tetapi dengan Federal Reserve yang diharapkan untuk kembali meningkatkan suku bunga AS pada tahun ini, hal itu akan memberikan tekanan pada emas dilain pihak akan memberikan dukungan pada dolar. Saat ini spot emas berada diatas level support yang pertama pada harga $ 1,081.73, jika emas dapat menembus level support yang pertama maka emas memiliki kemungkinan untuk terus mendekati level support yang kedua pada harga $ 1,076.17.

Emas AS untuk pengiriman Februari naik sebanyak 0,2% pada $ 1,091.10 per ons.

Emas Jatuh Beruntun 4 Hari, Pemulihan Pasar Saham Kurangi Permintaan Safe Haven

(MentariMulia) – Emas melemah pada Rabu, seiring rebound di pasar saham mengurangi beberapa safe haven logam mulia dengan tekanan tambahan dari penguatan greenback.

Saham Asia naik dari posisi terendah selama empat tahun seiring upaya China untuk menstabilkan mata uangnya saat pasar ekuitas dalam keadaan yang tenang, bahkan minyak menandai tonggak sejarah baru dengan berada di bawah $30 per barel.

Sebuah rebound yang terlambat pada saham energi dan biotek membantu mendorong S&P 500 mengalami kenaikan untuk hari kedua secara berturut-turut pada Selasa dan indeks FTSEurofirst 300 Pan-Eropa naik sebanyak 1,1% setelah selama empat sesi mengalami penurunan.

Spot emas turun sebesar 0,2% menjadi $1,085.20 per ons pukul 13.30WIB dan Emas berjangka AS melemah sebesar 0,2% menjadi $1,083.20.

Emas melemah dikisaran harga $1,083 berada didekat level support yang pertama dikarenakan adanya rebound dipasar saham dan mengurangi safe haven untuk emas. Apabila emas melewati level support yang pertama maka emas memiliki kesempatan untuk terus bergerak mendekati level support yang kedua pada harga $1,073.87.

Tetapi emas memiliki kemungkinan untuk bergerak naik jika kembali terjadi kepanikan di pasar ekuitas dan melemahnya dollar. Saat ini emas berada dibawah level resistance yang pertama pada harga $1,095.73, jika emas berhasil melewati level resistance yang pertama maka emas memiliki kemungkinan untuk terus bergerak mendekati level resistance yang kedua pada harga $1,105.27.

Rally logam kuning pada awal Januari untuk level tertinggi selama sembilan minggu telah kehabisan tenaga seiring ekspektasi mengenai kenaikan suku bunga AS lanjutan menurunkan permintaan untuk asset yang tidak membayar bunga, sementara meningkatkan dolar.

The Fed menaikkan suku bunga pada bulan Desember dan perhatian telah bergeser ke beberapa kenaikan yang akan mengikuti pada tahun 2016.

Dolar kokoh dikarenakan perburuan untuk mata uang safe haven seperti yen dan euro yang terhenti sementara setelah pihak China melakukan intervensi besar-besaran untuk membendung jatuhnya yuan.

Kepemilikan di ETF emas terbesar di dunia, SPDR New York, naik menjadi 2,1 ton pada hari Senin, data menunjukkan hal tersebut.

Cina telah meluncurkan perdagangan emas antar bank di awal tahun ini, salah satu dari upaya yang lebih luas untuk membuka pasar bullion negara dan meningkatkan investasi keuangan pada konsumen terbesar di dunia dari logam mulia ini.